Harga Wood Pellet Naik di Pasar Biomassa, Apa Penyebabnya?

Jun 24, 2026 | Info Terkini

Harga wood pellet (pelet kayu) belakangan menjadi topik yang makin sering dibahas di kalangan pelaku industri biomassa, terutama karena kenaikannya mulai terasa pada biaya operasional harian. Bagi industri yang mengandalkan pasokan biomassa untuk boiler atau kebutuhan produksi, kenaikan harga seperti ini tentu menjadi perkara yang meresahkan.

Pertanyaannya, kenapa harganya bisa terus naik? Apakah ada opsi biomassa yang lebih stabil untuk jangka panjang? Temukan jawabannya di artikel ini!

Harga Wood Pellet Tahun Sebelumnya vs Saat Ini

Wood pellet atau pelet kayu merupakan bahan bakar biomassa yang dibuat dari serat kayu yang dipadatkan melalui proses kompresi. Produk ini banyak digunakan sebagai bahan bakar boiler industri, pembangkit energi, hingga sistem pemanas di beberapa negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga wood pellet mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika pada tahun 2024 harga pelet kayu curah berada di kisaran US$115 (sekitar Rp2 jutaan) per ton, maka pada September 2026 harganya telah mencapai sekitar US$250 (sekitar Rp4,4 juta) per ton. Artinya, terjadi kenaikan lebih dari 100% dalam rentang dua tahun.

KeteranganHarga Asli
Harga pelet kayu curah (2024)Rp. 2.000.000 per ton
Harga eceran per karung ±18 kgRp. 110.000 – Rp170.000 per karung
Harga pelet kayu curah (September 2026)Rp. 4.400.000 per ton (50 karung)
Biaya pengirimanMulai dari Rp. 800.000

Melansir dari website Biomass Magazine, pasar wood pellet global juga menghadapi dinamika. Dibandingkan tahun 2023, penjualan wood pellet domestik tercatat turun sekitar 247.372 ton metrik atau sekitar 14%. Meski volume penjualan menurun, harga rata-rata per ton justru tetap mengalami kenaikan. 

5 Penyebab Utama Kenaikan Harga Pelet Kayu

Kenaikan harga wood pellet tidak terjadi tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar biomassa global mengalami fluktuasi yang cukup signifikan karena:

1. Permintaan Energi Biomassa Terus Meningkat

Salah satu penyebab utama kenaikan harga pelet kayu adalah meningkatnya permintaan global terhadap bahan bakar alternatif. Permintaan ini semakin meroket sejak terjadinya konflik Rusia – Ukraina pada tahun 2022, sebab banyak negara mulai mengurangi ketergantungan pada gas alam dan bahan bakar fosil lainnya. 

Kondisi ini mendorong peningkatan penggunaan energi terbarukan, termasuk biomassa berbasis kayu. Akibatnya, permintaan wood pellet untuk pembangkit listrik, sistem pemanas, dan kebutuhan industri meningkat secara signifikan.

2. Ketersediaan Bahan Baku Kayu Semakin Terbatas

Wood pellet sangat bergantung pada pasokan kayu sebagai bahan baku utama. Di sisi lain, kebutuhan kayu tidak hanya berasal dari industri biomassa, tetapi juga sektor konstruksi, furnitur, pulp, dan kertas. 

Ketika berbagai sektor tersebut bersaing mendapatkan bahan baku yang sama, harga kayu cenderung meningkat. Kondisi ini jelas sangat mempengaruhi biaya produksi wood pellet dan pada akhirnya berdampak pada harga jual di pasar.

3. Krisis di Industri Furnitur

Pemasok utama serbuk gergaji dan serpihan kayu untuk produksi pelet berasal dari industri furnitur. Namun dalam setahun terakhir,  industri ini mengalami krisis yang cukup signifikan. 

Dampaknya, volume limbah kayu yang biasanya digunakan untuk membuat pelet ikut menurun. Ketika bahan baku semakin sulit diperoleh, produsen harus mencari sumber lain yang umumnya lebih mahal, sehingga biaya produksi ikut meningkat.

4. Biaya Produksi dan Logistik Meningkat

Selain faktor permintaan dan ketersediaan bahan, rantai pasokan wood pellet juga turut mempengaruhi fluktuasi harga. Pasalnya, ketersediaan bahan baku kayu tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan konsumsi, sementara biaya produksi, transportasi, dan logistik terus meningkat. 

Di Eropa, harga impor wood pellet bahkan mencapai sekitar €253 per metrik ton pada akhir 2025, naik 17% dibandingkan tahun sebelumnya karena tingginya kebutuhan energi dan ketatnya persaingan pasokan global.

5. Regulasi Kehutanan yang Semakin Ketat

Untuk melindungi hutan dan mengurangi risiko deforestasi, berbagai negara menerapkan persyaratan yang lebih ketat terhadap bahan baku biomassa. Produsen harus memastikan bahwa kayu yang digunakan berasal dari sumber yang legal, dapat ditelusuri, dan tidak berasal dari hutan primer yang dilindungi. 

Akibatnya, ketersediaan kayu yang memenuhi standar tersebut menjadi lebih terbatas, sehingga pasokan bahan baku murah semakin berkurang. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah mewajibkan pelaku usaha atau pabrik produksi biomassa, terutama pelet kayu, untuk memenuhi persyaratan SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian).

Melalui sistem ini, pabrik harus lolos audit lacak balak (chain of custody). Artinya, asal-usul kayu harus dapat ditelusuri mulai dari proses pemanenan, pengangkutan, pengolahan, hingga menjadi produk akhir yang diperdagangkan atau diekspor.

Bagaimana Cara Mengatasi Situasi Kenaikan Harga Pelet Kayu Saat Ini?

Kenaikan Harga Pelet Kayu Saat Ini

Kenaikan harga wood pellet membuat banyak pelaku industri mulai mencari alternatif biomassa lain yang lebih murah dan stabil. Salah satu pendekatan yang paling masuk akal adalah tidak hanya bergantung pada satu jenis biomassa, terutama yang berbasis kayu.

Akan tetapi, mulai pertimbangkan juga alternatif dari limbah pertanian seperti pelet sekam padi yang lebih mudah tersedia di negara agraris seperti Indonesia. Pelet sekam padi berasal dari limbah penggilingan padi yang jumlahnya sangat besar setiap tahun. Di Indonesia, potensi sekam padi mencapai lebih dari 16 juta ton dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Namun, apakah penggunaan pelet sekam padi sebagai pengganti pelet kayu untuk pemanasan juga masuk akal dari segi energi? Jika kita hanya melihat nilai kalor pelet sekam padi, jawabannya cukup jelas.

Pelet sekam padi memiliki nilai kalor yang relatif baik yaitu 3.500 – 4.200 kkal/kg, hanya sedikit di bawah pelet kayu yang memiliki nilai kalor rata-rata sekitar 3.800 – 4.600 kkal/kg. Artinya, pelet sekam padi dapat dengan mudah menyaingi pelet kayu dalam hal energi. 

(Sumber:https://www.richipelletmachine.com/id/rice-husk-pellet-plant/ & https://kerone.com/wp-content/uploads/2026/04/Calorific-Value-Of-Wood-Pellets.pdf) 

Dari sisi harga, pelet sekam padi umumnya berada di kisaran Rp1,5–3 juta per ton, tergantung kualitas, kadar air, dan volume pembelian. Artinya, terdapat selisih biaya yang cukup besar antara dua jenis biomassa ini, yaitu sekitar 30%–60% lebih murah jika menggunakan pelet sekam padi.

Kesimpulan 

Secara keseluruhan, kenaikan harga wood pellet sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan global dan ketersediaan bahan baku. Ketika kebutuhan energi meningkat lebih cepat daripada pasokan kayu yang tersedia, harga menjadi lebih sulit diprediksi dan cenderung naik.

Bagi industri, situasi ini menjadi sinyal penting untuk mulai mempertimbangkan strategi energi jangka panjang. Tidak hanya fokus pada satu jenis biomassa, tetapi juga melihat opsi lain yang lebih scalable.

Biomassa berbasis limbah pertanian seperti pelet sekam padi bisa menjadi alternatif wood pellet yang sangat layak dipertimbangkan. Selain lebih mudah didapat dan ramah lingkungan, biayanya juga cenderung lebih murah untuk kebutuhan industri.

Jika anda membutuhkan pelet sekam padi yang berkualitas, jangan ragu untuk menghubungi kami.